Jumat, 17 Oktober 2014

IBDA BINAFSI "MULAILAH DARI DIRI SENDIRI"




Saat ini kita sering melihat dalam tayangan televisi seperti korupsi, perampokan, pembunuhan, penipuan, perkosaan, narkoba, aksi demonstrasi yang berujung anarkis yang berakibat kerusakan terhadap fasilitas umum, saling hujat menghujat/caci maki, dan masih banyak lagi peristiwa-perisistiwa lain yang lebih memprihatinkan. Peristiwa seperti ini membuat kita bingung, apa sesungguhnya yang menyebabkan ini semua terjadi?. Apakah ini disebabkan oleh penegakan hukum yang lemah atau memang manusia itu sendiri yang tidak bisa membedakan mana yang ma’ruf dan mana yang munkar. mana yang baik dan mana yang jahat. Sungguh celaka bila orang yang hatinya tidak mengenal kebaikan dan kemungkaran.  
Dalam hidup bermasyarakat kita diatur oleh norma-norma yang berlaku seperti norma agama  yang berdasarkan ajaran aqidah suatu agama, norma Kesusilaan yang didasarkan pada hati nurani atau akhlak manusia, norma kesopanan yang merupakan norma yang berdasarkan aturan tingkah laku yang berlaku dimasyarakat, norma adat/kebiasan yang merupakan norma yang berlaku dalam suatu masyarakat yang merupakan kebiasaan/adat setempat.  Dalam hidup bernegara kitapun diatur oleh norma hukum berupa peraturan perundang-undangan, semua agama mengajarkan kebaikan dan keburukan, bagi yang beragama Islam melalui Al-Qur’an dan hadits juga mengatur mana yang boleh dilakukan dan mana yang dilarang. Sebagaimana Nabi bersabda ;”Disebut  orang Islam, yaitu yang mampu menciptakan rasa aman tentram dan damai dikalangan masyarakatnya, jauh dari ulah gangguannya, baik akibat perkataan ataupun tindakannya…(HR. Bukhari-Muslim).  Jadi tidak ada lagi alasan bagi seseorang untuk tidak tau mana yang baik dan mana yang buruk, lalu kenapa masih saja terjadi tindakan-tindakan buruk yang pada akhirnya merugikan diri sendiri, masyarakat, bangsa dan negara.
 Untuk merubah masyarakat, bangsa dan negara kearah yang lebih baik tidak hanya dilakukan oleh seorang presiden, menteri atau para penyelengara negara maupun oleh masyarakat, akan tetapi semua pihak ikut berperan termasuk kita. Perubahan kearah yang lebih baik akan berhasil jika perubahan dimulai dari diri sendiri. Ingin lingkungan bersih dan tidak banjir  maka jangan buang sampah sembarang tempat, ingin tertib patuhi aturan, ingin rakyat sejahtera pimpinan jangan korupsi (berlaku jujurlah), ingin keadilan tegakkan hukum, ingin pelayanan baik jadilah sumber daya manusia yang berkualitas, berintegritas dan jangan mempersulit. Ini semua akan tercapai apabila perubahan kearah yang  lebih baik dimulai dari diri masing-masing. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat Ar-Ra’d ayat 11 :

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ ...١
 Sesungguhnya Allah tidak merubah
keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Ar-Ra’d : 11).

Ketika banyak orang yang menyeru untuk melakukan kebaikan dan menyeru untuk menghindari keburukan maka dipastikan makin baiklah masyarakat, bangsa dan negara. Namun sangat disayangkan ketika terjadi kasus-kasus seperti korupsi, pelecehan seksual, justru pelakunya adalah orang yang menyeru kepada kebaikan. Sebagai contoh adalah dalam dunia kerja kita sering sekali mendapatkan nasihat/arahan pimpinan supaya kita melakukan perubahan kearah yang lebih baik, tetapi pada kenyataannya kita juga melihat bahwa yang memberikan nasihat/arahan adalah seseorang yang juga tidak melakukan apa yang diucapkan. Dalam  lingkup yang luas seperti dalam bermasyarakat, berbangsa dan benegara juga sering  kita  melihat  tindakan para pemimpin  tidak sesuai dengan apa yang diucapkan, mengucapkan dan menyerukan berantas korupsi, tetapi dia sendiri yang korupsi. Belum lagi tindakan kekerasan, main hakim sendiri, penghinaan,hujat menghujat/caci maki, dan perilaku buruk lainnya.  Mengapa ini terjadi ? ini terjadi karena melupakan aturan agama, agama tidak lagi menjadi pedoman dalam bertindak, bahkan yang lebih parah lagi ada yang mengatakan jangan bawa-bawa agama dalam urusan ini atau urusan itu, sungguh menyedihkan..., Mereka  hanya pandai memberi nasihat namun tidak pandai mengamalkan, mereka hanya bisa mengoreksi, mencaci maki namun tidak bisa berbuat dan tidak bisa memberi solusi, mereka hanya ingin perubahan tetapi tidak mau berubah. Dari Ibnu Mas’ud, Rasul SAW bersabda “Tiada seorang Nabi sebelummu, kecuali punya kawan setia yang tunduk taat mengikuti sunahnya. Kemudian sesudah itu muncullah generasi yang hanya pandai bicara tetapi tidak banyak berbuat, mereka bahkan melakukan hal-hal yang tiada pedomannya. Maka barang siapa memerangi mereka dengan kekuatannya berarti ia mukmin, dan barang siapa menentang dengan pidatonya, berarti ia mukmin, dan barang siapa mengingkari mereka dengan hatinya berarti ia mukmin. Sesudah itu tiada lagi tingkat keimanan sekecil biji sawipun.” (HR.Muslim.
Dan dari Usamah bin Zaid,Rasul SAW bersabda “Seorang pria kelak di hari kiamat, ia dihadapkan lalu dijerumuskan ke dalam neraka, keluarlah usus perutnya dan berputar-putar di neraka seperti seekor himar berputar mengelilingi penggilingan, kemudia penghuni neraka datang mengerumuninya seraya bertanya ; “hai anu, kenapa kau demikian parahnya, bukankah kau yang amar ma’ruf nahi munkar dulu didunia? Jawabnya; ya betul, aku amar ma’ruf namun tidak melakukannya dan nahi mungkar namun aku melanggarnya.” (HR. Bukhari-Muslim)
Nabi Muhammad SAW sendiri telah menyampaikan pesan kepada kita untuk melakukan perubahan dalam diri kita sebelum kita merubah yang lain, jangan menyeru orang lain untuk berubah tetapi diri kita sendiri belum berubah, inilah pangkal dari kehancuran. Perubahan dalam suatu organisasi tentu dimulai dari seorang pemimpin, perubahan dalam suatu keluarga tentu dimulai dari kepala keluarga, perubahan dalam masyarakat tentu dimulai dari tokoh atau orang-orang berpengaruh dalam lingkungan masyarakat. Perubahan negara  dimulai dari para penyelenggara negara. Perubahan ke arah yang lebih baik bagi suatu masyarakat, bangsa dan negara akan menjadi angan-angan jika perubahan itu tidak didasari atas dasar kesadaran dan kemauan dari diri sendiri. Ketika seorang pemimpin mengajarkan bawahan untuk disiplin maka pemimpin harus lebih dulu disiplin, ketika seorang kepala rumah tangga mengajarkan kepada istri dan anaknya untuk taat kepada perintah dan larangan Tuhannya, maka kepala keluarga harus melakukan itu terlebih dahulu, sungguh memalukan, menyedihkan jika hanya bisa menyampaikan tapi tidak bisa mengamalkan, bicaranya malaikat tetapi perbuatannya setan. Jangan ajarkan untuk melakukan sesuatu, tetapi contohkanlah untuk melakukan sesuatu.

Allah SWT telah berfirman dalam surat As-Saf ayat 2 :

 يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ ٢

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan”. (As-Saf : 2).
  ۞أَتَأۡمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلۡبِرِّ وَتَنسَوۡنَ أَنفُسَكُمۡ وَأَنتُمۡ تَتۡلُونَ ٱلۡكِتَٰبَۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ ٤٤
Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian/ibadah, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab? Maka tidaklah kamu berpikir (Al-Baqarah : 44)

Perubahan kearah yang lebih baik tentu tidak semudah membalik telapak tangan, semua mempunyai peran masing-masing. Selaku kepala negara, para pemimpin,  bisa merubah kemungkaran dengan kekuasaannya. Para ulama/ustad/kiyai/habaib dengan nasihat/dakwahnya, dan sekecil kecil perubahan adalah melalui do’a. Sebagaimana  Rasulullah SAW bersabda : Barang siapa diantaramu menghadapi perkara mungkar, maka hendaklah merubah dengan tindakan(kekuasaanny), dan jika tiada kemampuan, maka hendaklah dengan nasihatnya, dan jika tiada kemampuan pula, maka hendaklah dengan keimanan hatinya (doa), itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim).
Untuk itu marilah kita sadarkan diri kita untuk turut serta menciptakan masyarakat, bangsa dan negara kearah yang lebih baik, jangan menuntut perubahan sebelum kita sendiri melakukan perubahan. Ingat kuncinya adalah “ibda binafsi” mulailah dari diri sendiri.

2 komentar: