Senin, 29 Desember 2014

SURGA FIRDAUS

Surga adalah tempat yang disediakan Allah SWT bagi hamba-hambanya yang beriman dan beramal saleh, salah satu nama surga yang Allah SWT ciptakan adalah Surga Firdaus. Allah SWT akan memberikan balasan terhadap orang-orang yang beriman dan beramal saleh dengan memasukkannya ke dalam surga Firdaus,  dalam surat Al-Kahfi Ayat 107 yang berbunyi :

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ كَانَتۡ لَهُمۡ جَنَّٰتُ ٱلۡفِرۡدَوۡسِ نُزُلًا ١٠٧

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal.” (Al-Kahfi : 107,  dalam ayat 30 Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan pahala hambanya yang telah mengerjakan kebaikan :

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجۡرَ مَنۡ أَحۡسَنَ عَمَلًا ٣٠

Sesunggunya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik.”  (Al-Kahfi :30)
Surga merupakan tempat diahkirat yang penuh dengan keselamatan, kebahagiaan serta kemuliaan yang abadi. Dalam Al-Qur’an disebutkan beberapa nama surga serta penghuninya,  diantaranya adalah Surga Firdaus yang juga dijelaskan dalam surat Al-Mukminun ayat 11 Allah SWT berfirman :

ٱلَّذِينَ يَرِثُونَ ٱلۡفِرۡدَوۡسَ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ١١

(yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (Al-Mukmin :11)

Lalu siapakah yang mewarisi surga Firdaus tersebut, Al-Mukminun ayat 2-9 menjelaskan :

1.    Orang-orang yang khusyu dalam sholatnya
Memang tidak mudah melakukan sholat secara khusyu, karena iblis/setan pasti akan terus menggoda hingga manusia tersesat dan sampai masuk ke neraka,
oleh karena itu harus terus berupaya untuk melawan godaan iblis/setan dan bala tentaranya dengan terus meningkatkan ketaqwaan dan keimanan. khusyu dalam sholat memang sangat susah dilaksanakan karena banyaknya godaan, namun  teruslah berupaya agar sholat yang dikerjakan dapat mencapai tingkat khusyu.   Sholat  dengan khusyu dapat dilakukan dengan cara menghadapkan hati, lisan dan seluruh anggota tubuh dengan selalu mengingat Allah SWT, selalu mengingat maut/kematian dan merasakan kehadiran Allah SWT dekat, paling tidak ketika mendirikan sholat  lupakan urusan dunia dan ingat  akan akhirat. Berat memang untuk sholat dalam keadaan khusyu karena begitu dahsyatnya godaan iblis/setan yang secara terus menerus menggoda dari segala penjuru tanpa kenal lelah dan putus asa  hingga  terjerumus kejalan yang sesat yaitu keneraka. Hal ini sebagaimana janji iblis/setan kepada Allah SWT bahwa Iblis/setan akan menghalangi hambaNya dari jalan yang lurus ke jalan yang sesat, sebagaimana tersurat dalam surat Al-A’raf ayat 16 – 17 ;

قَالَ فَبِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأَقۡعُدَنَّ لَهُمۡ صِرَٰطَكَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ١٦ ثُمَّ لَأٓتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ وَعَنۡ أَيۡمَٰنِهِمۡ وَعَن شَمَآئِلِهِمۡۖ وَلَا تَجِدُ أَكۡثَرَهُمۡ شَٰكِرِينَ ١٧
Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (Al-A’raf : 16)

kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Al-A’raf : 17)

Kemarahan Allah SWT terhadap iblis/setan yang menolak untuk bersujud kepada Nabi Adam diceritakan bahwa penolakan sujudnya iblis/setan kepada Nabi Adam adalah karena Iblis merasa lebih baik asal/unsur penciptaannya dibandingkan dengan Nabi Adam. Karena tidak mau sujud maka Allah SWT memerintahkan kepada Iblis/setan untuk keluar dari surga, namun iblis/setan meminta penangguhan hingga manusia dibangkitkan, dalam dialognya Allah SWT memberi tangguhan kepadanya. Penolakan  iblis/setan kepada Allah SWT ketika diperintah sujud kepada Nabi Adam as dan meminta penangguhan keluar dari surga adalah semata-mata untuk menggoda manusia dari jalan yang lurus kejalan yang sesat sebagaimana ayat tersebut diatas.

Untuk itulah jagalah setiap diri dari segala macam bentuk godaan iblis/setan dengan selalu berdoa memohon perlindungan serta meningatkan ketaqwaan dan keimanan kepada Allah SWT.  Dengan membaca surat Al-A’raf ayat 16-17 diatas paling tidak dapat menyadarkan setiap diri bahwa iblis/setan merupakan musuh yang nyata bagi semua manusia sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 168 yang berbunyi :

 وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٌ ١٦٨
“........ dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (Al-Baqarah : 168)

2.    Orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan tidak berguna
Perbuatan dan perkataan yang dilakukan hendaklah memberikan manfaat dan kesejukan bagi orang lain (lemah lembut, ramah), perbuatan dan perkataan yang tidak memberikan manfaat terhadap diri sendiri maupun orang lain ada baiknya tidak dilakukan/dihindarkan atau lebih baik diam sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, berbicaralah yang baik-baik, kalau tidak mampu, maka diamlah.” (HR. Bukhari-Muslim), sebagaimana juga Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 12 ;
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٞۖ وَ لَا تَجَسَّسُواْ وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًاۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمۡ أَن يَأۡكُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتٗا فَكَرِهۡتُمُوهُۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٞ رَّحِيمٞ ١٢
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan buruk sangka (kecurigaan), karena sebagian dari buruk sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Al-Hujurat : 12)
Surat Al-Isra ayat 36;

وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَٰٓئِكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡ‍ُٔولٗا ٣٦
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Al-Isra : 36)
 Surat Qaf ayat 18 ;
 مَّا يَلۡفِظُ مِن قَوۡلٍ إِلَّا لَدَيۡهِ رَقِيبٌ عَتِيدٞ ١٨

Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaf ; 18)

Berbuat dan berkata seperlunya merupakan jalan tengah yang mesti dilakukan mengingat  saat ini masih banyak perbuatan dan perkataan yang sudah diluar nilai-nilai agama maupun kesopanan seperti mengucapkan kata-kata yang menyinggung perasaan orang lain (caci maki, menghina, mengadu domba (propokator), ghibah/bergunjing, menipu, dengki, berdusta bahkan sampai kepada fitnah dan kata-kata yang menebar permusuhan dan masih banyak lagi perbuatan dan perkataan buruk lainnya).  Ada baiknya ketika berbicara kepada orang lain dipikirkan terlebih dahulu apakah perbuatan dan perkataan yang akan diucapkan memberi manfaat atau malah akan memberi mudharat bagi orang lain maupun bagi diri sendiri, sehingga apa yang diperbuat dan dikatakan tidak membawa kepada dosa hingga mengakibatkan masuk kejurang neraka. Dari Abu Hurairah Nabi Muhammad saw  bersabda “seseorang terkadang mengeluarkan perkataan yang tiada diperhatikan, tahu-tahu dirinya terperosok ke jurang neraka sedalam jarak timur dan barat.” (HR. Bukhari-Muslim). Apabila ada orang lain yang mengatakan perkataan yang tidak berguna seperti membicarakan kejelekan/aib orang lain, maka ingatkanlah dengan kesabaran, mengingatkannya agar menghentikan apa yang di katakan, sebagaimana Allah berfirman dalam surat  Al-Asr ayat 1-3 ;

وَٱلۡعَصۡرِ ١  إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢
1. Demi masa
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian

 إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣
3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Perbuatan dan perkataan buruk sesungguhnya tidak akan memberi manfaat apapun terhadap diri sendiri maupun orang lain, karena justru hal itu akan merusak amal ibadah yang telah dikerjakan.  Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat Al-Qasas ayat :

وَإِذَا سَمِعُواْ ٱللَّغۡوَ أَعۡرَضُواْ عَنۡهُ وَقَالُواْ لَنَآ أَعۡمَٰلُنَا وَلَكُمۡ أَعۡمَٰلُكُمۡ ....٥٥
Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: "Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, ...... " (Al-Qasas : 55)

Maka dari itu mulailah dari sendiri dengan menjauhkan diri dari sifat perbuatan dan perkataan yang tidak berguna  agar amal yang telah dikerjakan dapat membawa diri kepada kebahagiaan dunia dan juga kebahagiaan akhirat (surga). Hal ini sebagaimana dikatakan Nabi Muhammad saw “Barang siapa oleh Allah dijaga mulut dan alat fitalnya dari hal-hal yang dilarang oleh agama, pasti masuk surga.” (HR. Turmudzi).


3.    orang yang menunaikan zakat
Menunaikan zakat merupakan ketentuan dan kewajiban yang diperintahkan Allah SWT kepada umat-Nya, zakat  hukumnya adalah fardlu ain  (kewajiban bagi tiap orang/diri pribadi), zakat itu sendiri terdiri dari 2 (dua) macam ; zakat mal (zakat harta) dan zakat Fitrah (zakat diri), zakat termasuk dalam rukun islam yang telah ditentukan syarat dan peruntukannya,  sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 43 ;
وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱرۡكَعُواْ مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ ٤٣
Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku´lah beserta orang-orang yang ruku.”(Al-Baqarah : 43)

At-Taubah ayat 60 ;

۞إِنَّمَا ٱلصَّدَقَٰتُ لِلۡفُقَرَآءِ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱلۡعَٰمِلِينَ عَلَيۡهَا وَٱلۡمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمۡ وَفِي ٱلرِّقَابِ وَٱلۡغَٰرِمِينَ وَفِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِۖ فَرِيضَةٗ مِّنَ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٞ ٦٠
Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu´allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (At-Taubah : 60)

Dengan berzakat, seseorang tidak hanya sekedar menjalankan perintah Allah SWT, akan tetapi juga membuktikan akan ketaqwaan seorang hamba kepada penciptanya. Zakat  tidak hanya mensucikan dan membersihkan harta bagi pemiliknya, namun juga dapat memberikan ketenangan jiwa bagi orang yang menunaikannya. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat At-Taubah ayat 103 ;

خُذۡ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡ صَدَقَةٗ تُطَهِّرُهُمۡ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيۡهِمۡۖ إِنَّ صَلَوٰتَكَ سَكَنٞ لَّهُمۡۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ١٠٣
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (At-Taubah : 103)

Secara umum Allah SWT telah memerintahkan kepada umatnya untuk memberikan apa-apa yang telah diperoleh/diusahakan dari jalan kebaikan berupa hasil usaha maupun hasil bumi  yang telah Allah SWT berikan, dari hasil itulah dianjurkan untuk menafkahkan sebagian dari hasil usaha yang dikerjakan dengan memberikan hasil yang terbaik kepada orang lain dan bukan memberikan hasil yang buruk Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 267;

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَنفِقُواْ مِن طَيِّبَٰتِ مَا كَسَبۡتُمۡ وَمِمَّآ أَخۡرَجۡنَا لَكُم مِّنَ ٱلۡأَرۡضِۖ وَلَا تَيَمَّمُواْ ٱلۡخَبِيثَ مِنۡهُ تُنفِقُونَ وَلَسۡتُم بِ‍َٔاخِذِيهِ إِلَّآ أَن تُغۡمِضُواْ فِيهِۚ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ ٢٦٧
Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Al-Baqarah : 267).

Secara khusus ketentuan zakat  telah diatur syarat dan ketentuannya, maka dari itu kewajiban yang telah ditentukan harus dijalankan sesuai dengan syariat, jika harta yang dimiliki (dalam penguasaannya/milik sendiri) berdasarkan syariat tidak terkena wajib zakat, maka agar ketaqwaan kepada Allah SWT terus terjaga maka dapat memakai ketentuan umum bahwa apa-apa yang kita miliki dari hasil usaha maupun dari hasil bumi agar diberikan kepada yang membutuhkan dengan jalan berinfaq/sedeqah. Dari Adi bin Hatim, Nabi Muhammad saw bersabda “peliharalah dirimu dari siksa neraka, sekalipun hanya dengan sedekah separoh biji kurma.” (HR. Bukhari-Muslim).

4.    orang yang memelihara kemaluannya
Memelihara kemaluan dari laki-laki dan perempuan yang bukan suami istri adalah kewajiban yang diperintahkan Allah SWT kepada umatnya. Salah satu  menjaga kemaluan adalah dengan menjaga pandangan terhadap hal-hal yang akan membangkitkan syahwat dari perilaku buruk yang pada akhirnya akan berujung pada perbuatan zina. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat An-Nur ayat 30 ;

قُل لِّلۡمُؤۡمِنِينَ يَغُضُّواْ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِمۡ وَيَحۡفَظُواْ فُرُوجَهُمۡۚ ذَٰلِكَ أَزۡكَىٰ لَهُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا يَصۡنَعُونَ ٣٠
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat" (An-Nur : 30)

وَقُل لِّلۡمُؤۡمِنَٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَاۖ وَلۡيَضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّۖ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوۡ ءَابَآئِهِنَّ أَوۡ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآئِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ إِخۡوَٰنِهِنَّ أَوۡ بَنِيٓ إِخۡوَٰنِهِنَّ أَوۡ بَنِيٓ أَخَوَٰتِهِنَّ أَوۡ نِسَآئِهِنَّ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُهُنَّ أَوِ ٱلتَّٰبِعِينَ غَيۡرِ أُوْلِي ٱلۡإِرۡبَةِ مِنَ ٱلرِّجَالِ أَوِ ٱلطِّفۡلِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يَظۡهَرُواْ عَلَىٰ عَوۡرَٰتِ ٱلنِّسَآءِۖ وَلَا يَضۡرِبۡنَ بِأَرۡجُلِهِنَّ لِيُعۡلَمَ مَا يُخۡفِينَ مِن زِينَتِهِنَّۚ وَتُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٣١
Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung(An-Nur :31)

Dari kedua ayat tersebut telah dijelaskan selain diperintahkan untuk menjaga pandangan juga diperintahkan menjaga kemaluan, ketika seseorang tidak pandai menjaga pandangannya maka kemungkinan besar juga tidak akan  pandai menjaga kemaluannya sehingga berujung pada perzinahan. Zina tidak hanya melakukan hubungan seksual/badan akan tetapi segala perbuatan seksual yang dapat merusak kehormatan seseorang.
Menghindari/menjauhi perbuatan zina bagi laki-laki maupun perempuan merupakan perintah Allah SWT yang harus terus diingat dan dilaksanakan, sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat Al-Isra ayat 32;

وَلَا تَقۡرَبُواْ ٱلزِّنَىٰٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةٗ وَسَآءَ سَبِيلٗا ٣٢
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isra : 32)

Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad saw bersabda :”……….dan ditanya pula tentang perbuatan apa yang pada umumnya manusia dijerumuskan ke jurang neraka? jawabnya ;”yaitu, tiada kemampuan mengendalikan mulut dan memelihara kemaluan”.(HR. Turmudzi)

Hukuman bagi pezina dalam Al-Qur’an telah sebutkan dalam suat An-Nur ayat 2 ;

ٱلزَّانِيَةُ وَٱلزَّانِي فَٱجۡلِدُواْ كُلَّ وَٰحِدٖ مِّنۡهُمَا مِاْئَةَ جَلۡدَةٖۖ وَلَا تَأۡخُذۡكُم بِهِمَا رَأۡفَةٞ فِي دِينِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۖ وَلۡيَشۡهَدۡ عَذَابَهُمَا طَآئِفَةٞ مِّنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٢
Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.” (An-Nur :2)

Abu Hurairah ra, menceritakan, seorang pria mendatangi Nabi Muhammad saw. “Ya Rasulullah, aku berzina,”Nabi saw memalingkan muka dari orang itu. Lalu pria tersebut pindah ke hadapan beliau mengarahkan muka, dan kembali mengatakan, “Ya Rasulullah, aku berzina.”Nabi saw kembali memalingkan muka. Hal itu berlangsung sampai empat kali. Setelah pria tersebut empat kali mengaku bahwa dia telah berzina, Rasulullah saw bersabda;”Apakah engkau gila?”pria itu menggeleng, “Tidak”, Nabi saw bertanya, “apakah engkau beristri?” Pria itu mengangguk,”Ya, aku beristri.”Rasulullah saw bersabda kepada para sahabat, “Bawa orang ini, kemudian rajamlah dia.” (HR. Muslim).

5.    orang yang memelihara amanah-amanah dan janjinya
seseorang yang tidak pandai menjaga amanah dan tidak pandai memenuhi janji mencirikan bahwa orang tersebut termasuk kedalam golongan orang-orang munafik. Dari Abdullah bin Amr binAsh, Nabi saw bersabda bagi orang yang memiliki 4 (empat) sifat secara penuh, berarti munafik sejati dan bagi orang yang memiliki hanya setengahnya berarti telah setengah munafik, hingga sanggup menghilangkan sepenuhnya, 4 (empat) sifat tersebut yaitu ; ketika dipercaya khianat, setiap berbicara dusta, dan setiap janji diingkari, serta ketika berdebat curang.” Amanah dan janji merupakan suatu kepercayaan yang diberikan seseorang kepada orang lain, jika diberikan amanah maka sampaikanlah jika berjanji penuhilah, amanah baik bersifat fisik (materi) maupun non fisik (seperti lisan/ucapan) serta berlaku secara baik terhadap sesama juga merupakan suatu amanah, menetapkan hukum dengan adil juga amanah, hal ini sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat An-Nisa ayat 58 ;

۞إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُكُمۡ أَن تُؤَدُّواْ ٱلۡأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهۡلِهَا وَإِذَا حَكَمۡتُم بَيۡنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحۡكُمُواْ بِٱلۡعَدۡلِۚ إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعَۢا بَصِيرٗا ٥٨
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (An-Nisa : 58)
Menjalankan dan menjaga amanah bagi orang-orang tertentu akan terasa berat jika tanpa dilandasi oleh keimanan, oleh karena itu sampaikanlah amanah kepada yang berhak menerima amanah tersebut, bukankah kebaikan yang telah dilakukan akan dibalas dengan kebaikan, kejahatan akan dibalas dengan kejahatan pula hal ini sebagaimana  Allah SWT berfirman dalam surat Al-Zalzalah ayat 7;

فَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرٗا يَرَهُۥ ٧
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya (Al-Zalzalah : 7)
Al-Zalzalah ayat 8 ;
 وَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٖ شَرّٗا يَرَهُۥ ٨

Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (Al-Zalzalah : 8)
Al-Isra ayat 7 ;
إِنۡ أَحۡسَنتُمۡ أَحۡسَنتُمۡ لِأَنفُسِكُمۡۖ ....

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri.....(Al-Isra : 7)
Al-Jasiyah ayat 15 ;

مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ أَسَآءَ فَعَلَيۡهَاۖ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمۡ تُرۡجَعُونَ ١٥
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan.” (Al-Jasiyah : 15)
Ar-Rahman ayat 60 ;
 هَلۡ جَزَآءُ ٱلۡإِحۡسَٰنِ إِلَّا ٱلۡإِحۡسَٰنُ ٦٠

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (Ar-Rahman :60)
Bagi yang berbuat baik dengan menunaikan amanah, Allah SWT akan melipat gandakan pahalanya sebagaimana dalam surat Al-An’am ayat 160 ;

مَن جَآءَ بِٱلۡحَسَنَةِ فَلَهُۥ عَشۡرُ أَمۡثَالِهَاۖ وَمَن جَآءَ بِٱلسَّيِّئَةِ فَلَا يُجۡزَىٰٓ إِلَّا مِثۡلَهَا وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ ١٦٠
Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan.” (Al-An’am :160)
Jika berjanji maka penuhilah (baik berjanji kepada Allah, diri sendiri, terhadap sesama manusia), hal ini sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat Al-Maidah ayat 1 ;

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَوۡفُواْ بِٱلۡعُقُودِۚ ١
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. .......” (Al-Maidah : 1)

Al-Isra ayat 34 ;
....ۚ وَأَوۡفُواْ بِٱلۡعَهۡدِۖ إِنَّ ٱلۡعَهۡدَ كَانَ مَسۡ‍ُٔولٗا ٣٤
........ dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.” (Al-Isra : 34)

وَأَوۡفُواْ بِعَهۡدِ ٱللَّهِ إِذَا عَٰهَدتُّمۡ وَلَا تَنقُضُواْ ٱلۡأَيۡمَٰنَ بَعۡدَ تَوۡكِيدِهَا وَقَدۡ جَعَلۡتُمُ ٱللَّهَ عَلَيۡكُمۡ كَفِيلًاۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا تَفۡعَلُونَ ٩١
Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (An-Nahl : 91).
  
6.    orang yang memelihara sholatnya
Sholat merupakan suatu perbuatan (ibadah) yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Sholat  bisa juga bermakna doa, karena didalamnya penuh dengan perkataan/ucapan doa. Sholat merupakan rukun Islam kedua setelah mengucap dua kalimat syahadat dan bagi umat Islam diwajibkan untuk melaksanakannya, perintah untuk melaksanakan sholat begitu banyak dalam Al-Qur’an, diantaranya Allah SWT berfirman dalam surat An-Nur ayat 56 ;

وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ ٥٦

Dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (An-Nur : 56)
Sholat juga merupakan tiang agama, jika sholat dilakukan dengan benar dan sesuai syarat  dan rukunnya serta dengan mengikuti tata cara sholat Nabi Muhammad saw  maka sholat yang kita kerjakan akan berimplikasi kepada perbuatan/perilaku  yang baik, selain itu jika sholat dilakukan dengan benar akan dapat memberikan perlindungan terhadap orang-orang yang melaksanakannya, sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat An-Kabut ayat 45 ;

ٱتۡلُ مَآ أُوحِيَ إِلَيۡكَ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۗ وَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۗ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُونَ ٤٥
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Al-Ankabut : 45)

Memelihara sholat berarti menjaga agar sholat yang kita kerjakan dilaksanakan sesuai dengan syarat dan ketentuan yang diajarkan Nabi Muhammad saw seperti sholat diawal waktu, sholat secara berjamaah (dimasjid, musholla) dll, serta sholat dilakukan dengan khusyu, melakukan sholat secara khusyu adalah sholat yang  didirikan/dikerjakan tidak hanya sekedar menggugurkan kewajiban diri atas perintah Allah SWT, akan tetapi benar-benar meresap didalam jiwa sebagai suatu kebutuhan jiwa/diri bagi pelakunya.
Melaksanakan apa-apa yang perintahkan dan menjauhi atas apa-apa yang dilarang oleh Allah SWT sudah jelas tertulis dalam Kitab-Nya (Al-Qur’an) maupun sunah Nabi Muhammad saw, perintah dan larangan yang tertulis dalam Al-Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad saw tentu mempunyai konsekwensi hukum bagi yang melaksanakan dan melanggarnya.
 
Demikianlah sedikit catatan tentang orang-orang yang akan mewarisi surga Firdaus, mudah-mudahan kita semua termasuk didalamnya. amiin......

2 komentar: